LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU USAHA TANI
Komoditi : budidaya Jagung Manis
Oleh :
Salahuddin 13103211051
JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JABAL GHAFUR
2015
1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Produktivitas jagung di Indonesia masih tergolong rendah dan kurang produktif pemasokannya bila disejajarkan dengan Negara penghasil jagung internasional. Bagaimana tidak, semua itu terjadi karena salahnya pemakaian dan penggunaan procedure yang sebenarnya sudah diberlakukan oleh mekanisme pertanian modern. Penggunaan varietas yang tidak unggul menjadi penentu bagi permasalahan yang sampai saat ini menjadi kemelut bagi perkembangan jagung nasional, tidak hanya disebabkan oleh itu saja melainkan permasalahan tersebut muncul karena pemanfaatan teknologi diminoritaskan dan lebih cenderung memanfaatkan kearifan budaya local, penanaman yang tidak tepat dengan waktunya serta penggunaan dosis pupuk yang tidak disesuaikan dengan dosis pemakaian dan tepat sasaran. Selanjutnya, pendapatan yang diharapkan oleh petani adalah kebergantungan pascapanen dengan mengoptimalkan sesuai penanganannya.
Kendati demikian, masih banyak momentum proses yang perlu dilakukan agar supaya ketahanan pangan terlebih jagung dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan pengharapan. Selektif dan teliti dalam mencari bibit penanaman, penyesesuain penggunaan lahan yang baik serta diolahnya dengan mekanisme pemberlakuan pertanian. Sebenarnya, keseluruhan akan permasalahan tersebut akan terselesaikan dengan sempurna dan baik apabila penyesesuaian akan banyak hal dilakukannya seperti waktu tanam yang sesuai, penyiapan benih yang berkualitas dan pemeliharaan dilakukan.
Konsep teori tersebut akan berjalan apabila dilakukan dalam proses penanaman sebab lahirnya penerapan karena terjadinya suatu pembentukan konsep yang matang serta konsep tersebut sudah diuji kelayakannya dan tidak dapat diragukan lagi, lebih mudahnya dari budidaya jagung adalah apabila berkeinginan produktivitasnya meningkat tidak harus dengan lahan basah dan pemberlakuan system aerasi dan drainase yang baik terpentingnya adalah tanah tersebut bersifat gembur, Benih yang baik akan menghasilkan tanaman yang tegak, perakaran kuat dan produksi tinggi. Salah satu permasalahan perbenihan di tingkat petani adalah harga benih yang mahal sehingga petani lebih memilih menanam jagung lokal atau turunan hibrida dari pertanaman musim sebelumnya. Permasalahan lain adalah benih tidak tersedia saat dibutuhkan.
Berdasarkan temuan-temuan genetik, antropologi, dan arkeologi diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, lalu teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4.000 tahun yang lalu. Kajian filogenetik menunjukkan bahwa jagung budidaya (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis).
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan menghitung produktivitas tanaman jagung.
2. Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman jagung yang baik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Jagung merupakan bagian dari sub sektor tanaman pangan yang memberikan andil bagi pertumbuhan industri hulu dan pendorong industry hilir yang kontribusinya pada pertumbuhan ekonomi nasional cukup besar. Tanaman jagung juga merupakan salah satu komoditi strategis dan bernilai ekonomis serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras (Anonim, 2003). Peningkatan produksi jagung menunjukkan bahwa produksi jagung nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. Pada kenyataannya total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun menunjukkan kesenjangan yang terus melebar dan jika terus dibiarkan, konsekuensinya adalah peningkatan jumlah impor jagung yang semakin besar dan Negara kita semakin tergantung pada Negara asing (Frobel, 2013).
Rumput teki (Cyperus rotundus) yang digolongkan sebagai gulma pada tanaman jagung, juga mempunyai kemampuan menghasilkan allelokimia. Hambatan pertumbuhan akibat adanya allelokimia dalam peristiwa allelopati dapat menyebabkan hambatan pada pembelahan sel, pengambilan mineral, respirasi, penutupan stomata, dan sintesa protein. Pelepasan alelokimia oleh rumput teki akan meningkat pada kondisi yang ekstrim, sehingga pertahanan tumbuhan gulma pada kondisi yang kurang menguntungkan. Salah satu kondisi yang kurang menguntungkan tersebut adalah tanah salin (Rizka, 2012).
Tindak lanjut arah kebijakan pembangunan ekonomi di sektor pertanian tersebut adalah ditetapkannya Agropolitan sebagai progam unggulan pembangunan dengan kompetensi berbasis jagung. Dalam pelaksanaannya masih banyak kendala yang dihadapi baik oleh petani maupun oleh perencana (pemerintah). Kaitannya dengan hal tersebut, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pertanian. (Nurdin, 2008).
Penggunaan jagung hibrida yang berproduksi tinggi meski secara ekonomis lebih menguntungkan bagi petani, namun dari sisi konservasi cukup mengancam keberadaan jagung varietas local yang merupakan sumber keragaman plasma nutfah local. Oleh karena itu pemanfaatan jagung hibrida pengembangan dari jagung local merupakan solusi yang tepat untuk mengatasi kekurangan pasoan bahan pakan ternak yang terjadi saat ini. Hasil perakitan jagung hibrida yang berdaya hasil dan bernilai gizi tinggi pada kondisi input rendah sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas yang ada saat ini. Pemberian input rendah dapat mengurangi biaya produksi dan ramah lingkungan (Mubarakkan, 2012). Salah satu aspek yang paling mendasar dari pengelolaan tanaman adalah budidaya jagung, seperti banyak produk lainnya tinggal tanggal menabur. Hal ini karena tanah dan tanah tunduk pada variasi iklim. Waktu tanam juga telah terbukti berdampak pada pertumbuhan tanaman. Berbagai percobaan telah menunjukkan bahwa selama pertumbuhan tanaman jagung, dari tanam sampai panen, tanaman menunjukkan perubahan signifikan dalam hal karakteristik fisiologis mereka (Khajeh pour, 2004).
III. BAHAN DAN METODE
A. Waktu dan tempat
Pratikum ini dimulai dari tanggal 03 bulan september 2014 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jabal Ghafur Jalan Medan-Banda Aceh di kecamatan trienggadeng desa deungkluet
B. Bahan dan Alat
1. Cangkul
2. Tugal
3. Roll meter
4. Tali raffia
5. Papan nama
6. Timba
7. parang
8. meteran
9. benih jagung
10. pupuk NPK
11. perlengkapan tulis
C. Pelaksanaan Praktikum
Penelitian ini bertempat dikebun percobaan universitas jabal ghafur bertempat di deungkuet. Namun, sebelum penelitian ini dilaksanakan terlebih dahulu lokasi dibersihkan dari kemungkinan gulma dan sampah pengganggu dan di buat bedengan-bedengan untuk penanaman benih jagung.
Pengolahan tanah dilakukan pada tanggal 13 oktober 2014. Setelah lahan bersih dari rerumputan, dilakukan pengolahan lahan. Lahan diolah dengan menggunakan cangkul sedalam 30-40 cm. Setelah diolah dilakukan perapian bedengan sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan. Yaitu dengan merapikan ukuran panjang dan lebar bedengan dengan menggunakan meteran.
Selanjutnya setelah di bersihkan dan dibuat bedengan dengan ukuran 1 x 6 m, Kegiatan penanaman jagung dilaksanakan pada tanggal 14 Oktober 2014. Penanaman jagung dilakukan secara serentak pada sore hari. Penanaman dilakukan dengan cara tugal dengan kedalaman tugal 5 cm dengan jumlah 2 benih per lubang tanam. Dengan jarak tanam 40 × 40 cm. Penanaman jagung ini untuk satu bedengan ditanam dua baris. Setelah penanaman benih jagung selesai dilakukan penyiraman agar cepat terjadi perkecambahan.
D. Pemeliharaan
1. Pemupukkan
Pemupukan dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2013. Setelah umur 3 minggu dari penanaman dilakukan pemupukkan dengan pupuk NPK. Dosis pemupukan adalah 10 gram / tanaman. Pemupukkan dilakukan secara larikan diantara tanaman jagung. Pemupukan dilakukan sekaligus dengan pembumbunan tanaman jagung.
2. Penyiraman
Pada minggu pertama, penyiraman di lakukan setiap pagi dan sore karena tanah harus basah dan lembab saat awal pertumbuhannya. Minggu-minggu selanjutnya, penyiraman dilakukan sehari sekali tergantung keadaan tanah. Penyiraman tidak perlu dilakukan saat hari hujan.
3. Penyiangan
Penyiangan akan dilakukan dengan memperhatikan jumlah populasi gulma, apabila sudah tumbuh gulma maka dilakukan penyiangan gulma. Penyiangan gulma dilakukan pada tiga tempat yaitu yang pertama ditengah bedengan dengan menggunakan cangkul, penyiangan pada tengah bedengan ini sekaligus membumbunkan tanah kepangkal tanaman jagung; tempat yang kedua yaitu pada bagian pinggir bedengan caranya menyiangi gulma dengan menggunakan sabit, penyiangan gulma di bagian tepi bedengan tidak dianjurkan gulma tersiangi seluruhnya, jadi hanya pemangkasan gulma saja. Hal ini dilakukan untuk menghindari erosi tanah disekitar bedengan yang disebabkan oleh air hujan; tempat ketiga yaitu pada parit dengan menggunakan cangkul. Gulma dibagian parit disiangi seluruhnya agar jika terjadi hujan air lancar dan tidak menggenangi tanaman.
Penyiangan pada tanaman jagung dilakukan setiap pergi ke kebun pencobaan. Tujuannya untuk menekan pertumbuhan gulma pada tanaman jagung manis.
4. Penyulaman
Penyulaman dilakukan terhadap bibit tanaman yang rusak ataupun mati. Penyulaman dilakukan seminggu setelah penanaman benih jagung manis. Pada pratikum ini penyulaman tanaman jagung dilakukan 15 hari setelah tanam, pengendalian dilakukan pada saat pergi ke kebun pencobaan , secara mekanis yaitu dengan menyiang tanaman menggunakan tangan dan menggunakan cangkul.
5. Parameter Pengamatan
Adapun parameter yang di amati yaitu tinggi tanaman, munculnya malai dan jumlah populasi jagung, dan jumlah tongkol.
7. Pemanenan
Pemanenan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2013. Umur panen jagung umumnya 85-100 hari. Jagung siap panen dengan ciri-ciri tongkol atau kelobot yang mulai mengering dan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga, biji sudah kering, keras dan mengkilat yang apabila ditekan dengan kuku tidak membekas.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tinggi Tanaman (cm)
Tinggi jagung 20 hari
Sampel (A)
|
Tinggi (cm)
|
Sampel (B)
|
Tinggi (cm)
|
A1
|
23
|
B1
|
29
|
A2
|
27
|
B2
|
31
|
A3
|
22
|
B3
|
30
|
A4
|
30
|
B4
|
30
|
A5
|
31
|
B5
|
27
|
A6
|
30
|
B6
|
19
|
A7
|
30
|
B7
|
26
|
A8
|
29
|
B8
|
29
|
A9
|
23
|
B9
|
30
|
A10
|
26
|
B10
|
25
|
A11
|
24
|
B11
|
28
|
A12
|
22
|
B12
|
22
|
A13
|
30
|
B13
|
14
|
A14
|
21
|
B14
|
23
|
B15
|
24
| ||
Jumlah
|
396
|
Jumlah
|
387
|
Rata-Rata
|
26.4
|
Rata-Rata
|
25.8
|
Tinggi jagung 30 hari
Sampel (A)
|
Tinggi (cm)
|
Sampel (B)
|
Tinggi (cm)
|
A1
|
34
|
B1
|
44
|
A2
|
40
|
B2
|
47
|
A3
|
33
|
B3
|
45
|
A4
|
46
|
B4
|
44
|
A5
|
46
|
B5
|
41
|
A6
|
45
|
B6
|
29
|
A7
|
45
|
B7
|
40
|
A8
|
44
|
B8
|
43
|
A9
|
35
|
B9
|
44
|
A10
|
40
|
B10
|
39
|
A11
|
37
|
B11
|
42
|
A12
|
33
|
B12
|
33
|
A13
|
45
|
B13
|
22
|
A14
|
33
|
B14
|
35
|
B15
|
37
| ||
Jumlah
|
554
|
Jumlah
|
585
|
Rata-Rata
|
39.5
|
Rata-Rata
|
30.4
|
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dari pangkal tumbuh tanaman pada Permukaan tanah yang sudah ditandai dengan menggunakan patok standard sampai pada ujung daun tertinggi. Pengukuran dimulai pada saat tanaman berumur 2 (dua), minggu setelahnya pengukuran tidak dapat dilakukan lagi ,karena mengalami rebah akibat cuaca .
B. Jumlah populasi dan tongkol tanaman jagung
Pada hari pemaneman komoditi jagung, Pada praktikum ini terhitung populasi tanaman jagung 122 batang dan 38 tongkol saat di panen. Dari 98 tongkol tersebut ada beberapa yang tongkolnya kecil dan bijinya sedikit
IV. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam budidaya tanaman jagung, varietas benih yang di tanam dan perlakuan akan mempengaruhi produksi tanaman jagung. Termasuk perbedaan pertumbuhan tinggi tanaman, biji dan jumlah daun yang dihasilkan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal perlu di perhatikan varietas benih yang di tanam dan di berikan pupuk yang berimbang agar tidak terjadi penghambatan dalam pertumbuhan tanaman jagung. Dalam praktikum fisiologi tumbuhan ini saya rasa hasil yang panen yang di peroleh cukup baik meski ada ada beberapaa jagung kerdil dan yang hilang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar